OBSTETRI DAN GINEKOLOGI SOSIAL

Latar Belakang

Tenaga yang memegang peranan penting dalam pelayanan kebidanan adalah dukun bayi. Ia mendampingi pada masa kehamilan, persalinan, masa nifas, kontrasepsi, dan abortus buatan. Berkat peningkatan dalam bidang pendidikan tenaga kesehatan, pada pertengahan tahun 1979 terdapat lebih dari 8000 dokter, 286 dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, dan lebih dari 16.888 bidan. Namun hanya sebagian kecil masyarakat yang menikmati pelayanan kebidanan yang sempurna, sebagian besar terutama masyarakata desa masih ditangani oleh tenaga tradisional.
Untuk meningkatkan pelayanan, tahun 1950 dilaksanakan program kesejahteraan ibu dan anak (KIA). Balai KIA tidak memuaskan karena masyarakat yang tinggal jauh dari balai tidak mendapat pengawasan yang baik. Balai KIA juga mengadakan pelatihan pada dukun bayi agar mereka lebih cepat mengenal tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan. Namun pelatihan ini tidak disertai usaha lain untuk melengkapi gagasan peningkatan kemampuan dukun tersebut. Dari penelitian, hanya 10-20% dukun yang masih berhubungan dengan pelatih, selebihnya tidak diketahui perkembangan pelayanan pasca pelatihan. Demikian pula, masih terdapat keterlambatan rujukan.

Masalah Obstetri dan Ginekologi Sosial di Indonesia

Tidak ada angka tepat mengenai kematian maternal di Indonesia karena belum adanya sistem pendaftaran wajib untuk kelahiran dan kematian. Menurut taksiran kasar, angka kematian maternal ialah 6-8 per 1000 kelahiran, angka ini sangat tinggi dibanding negara-negara maju. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor-faktor lain di luar pelayanan kebidanan yang memegang peranan dalam penentuan angka tersebut, yaitu kekurangan gizi dan anemi, paritas tinggi, dan usia lanjut pada ibu hamil.
Angka kematian perinatal yang terdapat di kepustakaan juga tidak menggambarkan keadaan sebenarnya. Angka tersebut berkisar 77,3 sampai 137,7 per 1000. Hans E. Monintja menyimpulkan :
– Lebih dari separuh dari kematian perinatal ialah bayi lahir mati
– Angka kematian perinatal bayi BBLR lebih daripada 2x angka kematian bayi cukup bulan
– Kematian dalam 24 jam pertama sekitar 37% dari angka kematian neonatal dini

Selain itu, masalah pelayanan kesehatan yang tidak merata juga belum terpecahkan. Masyarakat desa belum dapat merasakan pelayanan adekuat> Meskipun pemerintah telah mengadakan Puskesmas Keliling di daerah terpencil dan sulit dijangkau, namun persalinan oleh dukun dan di rumah masih merupakan cara persalinan terbanyak yang dilakukan oleh masyarakat.

Upaya Obsginsos di Indonesia

Sarana upaya pelayanan kesehatan di Indonesia meliputi :

1. Primary Health Care/ Pelayanan Kesehatan Dasar
Dalam Sistem Kesehatan Nasional tahun 1982 dinyatakan bahwa pelayanan kesehatan dasar merupakan upaya mendekatkan pelayanan pada masyarakat, khususnya untuk ibu hamil yang tinggal di pedesaan

2. Safe Motherhood Initiative
Tahun 1988 diadakan workshop nasional mengenai Safe Motherhood yang melibatkan pemerintah dengan 17 lintas sektor terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat nasional/internasional dan masyarakat agar berkembang kesamaan persepsi dan komitmen bersama untuk upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian IBU (PP AKI)

3. Bidan di Desa
Tahun 1989 kebijakan pemerintah diberlakukan dengan menempatkan 1 bidan di tiap desa sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. Pondok Bersalin Desa (Polindes) dikembangkan sebagai tempat melahirkan. Bidan desa juga mendapat pengetahuan dasar dan pembidanaan tentang pelayanan kebidanan

4. Gerakan Sayang Ibu (GSI)
Pada Desember 1996 dicanangkan sebagai wadah kemitraan antara pemerintah pusat sampai pedesaan dengan masyarakat dengan tujuan Percepatan Penurunan AKI. GSI kabupaten memberikan kebijakan politis dengan keterlibatan lintas sektor terkait, sedangkan GSI kecamatan dan pedesaan melakukan operasionalisasi bantuan penanganan masalah sosial, seperti biaya dan transportasi. Dikembangkan pula Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi

5. Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan Menuju INDONESIA SEHAT 2010
Dicanangkan pada 1 Maret 1999 dengan pola dasar Paradigma Sehat, bersifat promotif preventif proaktif dengan dukungan pelayanan kuratif rehabilitatif dalam pemeliharaan kesehatan komprehensif. Target Indonesia Sehat 2010 adalah
a. penurunan AKI dari 450/100.000 KH (tahun 1988) menjadi 125/100.000 KH di tahun 2010
b. bidan desa di tiap desa
c. perawatan kehamilan 95%
d. persalinan tenaga kesehatan 90%
e. penanganan ibu risiko tinggi dan komplikasi persalinan 80%
f. ketersediaan informasi mengenai KB 90%
g. Toksoid Tetanus pada ibu hamil 90%

6. Making Pregnancy Safer
Dalam rencana Strategi Nasional tahun 2001-2010 oleh Depkes, pada tahun 2000 mengacu tuujuan global yaitu menurunkan AKI sebesar 75% pada tahun 2015 menjadi 115/100.000 KH dan menurunkan AKB menjadi kurang dari 35/1000 KH

7. Pedoman Manajemen Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif 24 jam di tingkat Kecamatan dan Kabupaten/ Kota
Merupakan kebijakan Depkes tahun 2005 melalui pengembangan Puskesmas PONED dan Rumah Sakit PONEK 24 jam. RS Kabupaten dengan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi dan Anak bertanggung jawab membina wilayah dalam pelayanan kebidanan serta sebagai RS rujukan primer mendukung Puskesmas di tingkat Kecamatan

8. DESA SIAGA ( Desa Siap Antar Jaga)
Dibentuk tahun 2006 dengan 4 kegiatan utama yaitu :
a. Notifikasi ibu hamil
b. Tabungan ibu bersalin/ Tabulin, dana sosial ibu bersalin/Dasolin
c. Transportasi
d. Ketersediaan donor darah

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: